Sabtu, 24 Januari 2015

MAKALAH KOMUNIKASI DAKWAH

MAKALAH KOMUNASI DAKWAH- ketika matahari mulai terbit maka semua orang akan bertebaran mencari riskinya masing-masing dan anak sekolah mulai berangkat untuk menuntut ilmu, sedangkan para ilmuan akan sibuk dengan penelitian atau studinya. dan saya juga akan pergi untuk beraktivitas, tapi sebelmu saya berangkat saya akan membagiikan sebuah ulasan yang membahas tentang Komunikasi dakwah. berikut saya jabarkan.

BAB I
ERA BARU BERKOMUNIKASI
Seorang pakar sekaligus konsultan komunikasi, Maureen Melanchuk, melukiskan zaman ini sebagai ruang pengap menyesakkan karena dibanjiri informasi. Hiruk pikuk kehidupan para penghuninya hampir selalu didominasi persoalan yang bersumber pada semakin derasnya arus informasi.
Atas fenomena seperti itu beragam kajian mulai digelar. Banyak alasan yang melatari kajian-kajian yang dimaksud. Salah satunya berkaitan dengan mulai munculnya kegelisahan masyarakat menghadapi dampak yang sering sulit dikendalikan. Dalam arti semakin orang peduli dengan zaman ini, semakin gelisah kehidupannya.
Di Indonesia, ketika dampak media mulai mengkhawatirkan, dengan munculnya kecendrungan kalangan muda mengadopsi budaya asing yang dipandang kurang bersahabat dengan kebudayaan lokal, negara mulai membuat regulasi meskipun sangat rentan kontroversi. Silang pendapat seputar penetapan undang-undang pornografi adalh salah satu h menarik respons negara dan masyarakat terhadap fenomena tersebut. Namun demikian, bersamaan dengan munculnya dampak negatif media terhadap kehidupan sosial masyarakat, semakin besar pula dirasakan manfaat besar media, khususnya bagi kepentingan penyebaran pesan-pesan agama.
Kini media lebihn dari sekedar cetak dan elektronik. Mereka tumbuh dengan karakteristiknya sendiri. Melalui fasilitas internet, aktivitas komunikasi semakin meluas menyentuh hampir semua pojok kehidupan. Jauh lebih dari itu, internet adalah sebuah ruang ekspresi. Ia adalah rumah, perpustakaan, toko buku, bioskop, televisi, tempat rekreasi, ruang komunitas, bahkan dengan beberapa batasan, ia adalaj ekspresi keagamaan.
2.1.  Tantangan Dakwah Di Jagat Maya
Secara sosiologis, penerapan teknologi komunikasi dan informasi dalam kehidupan dapat mengubah ragam interaksi masyarakat secara signifikan. Masyarakat dakwah kini bukan saja mereka yang berada di depan mata, melainkan juga mereka yang secara bersama-sama ada di ruang abstrak yang disebut dunia maya. Media telah menggiring individu memasuki ruang yang memungkinkan saling berinteraksi. Internet misalnya, kini telah membentuk ruang maya tempat bertegur sapa secara interaktif ytang kemudian kita kenal dengan istilah syberspace.
Dengan demikian, kedepan diperlukan pola-pola penyampaian dakwah islam yang tidak lagi menuntut kehadiran masyarakat secara lansung. Salah satu solusinya adalah dakwah disampaikan melalui bantuan media. Medialah yang kemudian mengantarkan pesan-pesan hingga menyentuh para jamaah dalam beragam nuansa dan suasana. Dengan begitu, dakwah dapat berjalan terus meskipun kesempatan mereka telah tersita seluruhnya. Dakwah yang disampaikan melalui media massa akan tetap datang mengunjungi mereka yang sedang beristirahat di rumah masing-masing. Mereka tetap bisa menikmati sajian dakwah islam, tanpa harus meninggalkan pertemuan keluarga selepas makan malam.
Tuntutannya adalah kini semakin dibutuhkan para juru dakwah yang akrab dengan teknologi informasi dan komunikasi sekaligus memahami teknik dan strategi pemanfaatan media. Selain memiliki pengetahuan yang mapan tentang agama yang akan menjadi substansi pesan-pesan komunikasi yang akan disampaikannya, merekia juga dituntut memahami berbagai pendekatan dan strategi penggunaan media. Sebab corak dan gaya penyampaian pesan-pesan yang disalurkan melalui media massa tidak selalu sama dengan corak dan gaya paparan lisan yang bisa disampaikan secara konvensional di atas mimbar, belum tentu juga menarik di ayar kaca.
2.2.  Persentuhan Komunikasi dan Dakwah
Aktivitas dakwah dan komuniklasi sepintas memang tampak sama, atau berhmpitan antara satu sama lain. Jika komunikasi didefenisikan sebagai proses pengiriman dari seseorang kepada satu ata beberapa orang melalui simbol-simbol yang bemakna, dakwah pada dasarnya merupakan bagian dari kegiatan komunikasi. Secara sederhana, dakwah dapat juga dipandang sebagai proses penyampaian pesan-pesan tentang kebajikan dari seorang penyeru kepada audiens. Namun dari sisi konsep, keduanya memiliki ciri sendiri.
Dalam konteks ilmu, kedua istilah itu berbeda. Komunikasi dan dakwah merupakan satu disiplin ilmu tersendiri. Ilmu komunikasi dan ilmu dakwah. Keduanya memiliki objek masing-masing, baik objek formal maupun material. Secar etimologi, keduanya juga berbeda. Komunikasi sendiri berasal dari bahasa inggris “to communicat” yang berarti menyampaikan. Sedangkan dakwah berasalh dari kata bahasa arab, da’a, yad’u, da’watan, yang berarti memanggil. Menyampaikan dan memanggil tentu berbeda.secara sederhana bukti perbedaan itu juga dapat ditelusuri dari sisi pengalibahasaan kedua kata itu. Jika communicat diartikan kedalam bahasa arab maka ia tidak akan menjadi dakwah begitu juga sebaliknya jika dakwah diartikan kedalam bahasa inggris maka tidak akan menjadi communicat.
Oleh karena itu, menganalogikan dakwah dan komuniakasi, baik secara ilmu maupun praktis tidak bisa begitu saja diterima. Komunikasi dan dakwah tetaplah berbeda meskipun memiliki kesamaan objek, yaitu manusia.

BAB II
RUANG BARU KOMUNIKASI
DAN DAKWAH
Hanya dalam hitungan detik, begitu lahir, setiap bayi menangis. Suara tangis itulah yang membuat ibu bapaknya bahagia. Selain menangis, iapun dapat meronta meski baru diwakili gerakan tangan dan kaki. Jika suara dan gerak itu melambangkan bahasa verbal dan nonverbal, seoalah hanya ada dua pesan yang dapat bayi komunikasikan. Padahal, mungkin masih bnyak pesan lain yang ingin mereka sampaikan. Yang menarik lagi, tulis Elizabeth B. Hulock (9170), reaksi sosial terhadap tangisan itu justru dapat mempengaruhi frekuensi menangis sang bayi.
Di dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak cara manusia berkomunikasi baik secara sadar maupun tidak sadar mereka lakukan. Jadi, komunikasilah sesungguhnya yang telah mengantarkan manusia ini menjadi manusia, mengenal dirinya dan seluruh lingkungan yang mengikat kehidupannya, termasuk kesadaran akan keberadaan tuhannya. Dalam komunikasi, manusia menemukan kesadaran cinta, yang sewaktu-waktu mengajari tenggalam dalam rimba rindu, atau manusia membentuk dunia ini dalam nuansa kehidupan yang nostalgis dan prnuh romantis. Komunikasi akhirnya mengajak kita untuk menerima kenyataan. Di antara sesamanya manusia menjadi semakin dekat, dan semakin komunikatif, tidak saling menjauh yang dapat membuat jarak semakin renggang dan semakin tidak komunikatif.
3.1. Konsep Dasar Komunikasi
Komunikasi insani adalah proses prtukaran pesan yang berlansung dalam dunia manusia. Karena itu, ia selalu melibatkan manusia, baik dalam konteks intrapersonal, interpersonal, kelompok maupun massa.
Sebagai aktor komunikasi, baik sebagai komuikator maupun komunikan, manusia merupakan sosok yang penuh dengan muatan nilai. Tidak ada manusia yang bebas nilai sehingga ia mampu merespons suatu pesan sesuai dengan nilai yang dianutnya. Nilai yang dianut manusia dapat bersumber pada budaya, tradisi, normal sosial yang berlaku dalam masyarakat, atau bahkan agama dan kepercayaan. Latar belakang nilai inilah yang kemudian ikut mempengaruhi faktor  persepsi ketika seseorang memaknai simbol yang diterima sekaligus merumuskan pesana yang akan disampaikan. Karena pesan dalam komunikasi selalu sarat nilai.
Proses komunikasi sendiri meminjam model yang dikembangkan Defleur (1992), hampir selalu melibatkan sekurang-kurangnya empat faktor dominan. Pertam,  latar belakang sosial budaya para pelakunya. Kedua, hubungan sosial di antara pelakunya. Ketiga, lingkungan fisik tempat komunikasi itu dilakukan. Keempat, pengalaman komunikasi sebelumnya.
3.2. Bahasa dan Komunikasi
Buku A Theory of Communication and Use of Language sepintas mengisyaratkan adanya relasi funsional antara bahasa dan komunikasi. Konon, riset komunikasi membuktikan bahwa hingga saat ini, bahasa diakui sebagai media yang paling efektif dalam melakukan komunikasi insani. Isyarat verbal masih mendominasi perilaku komunikasi yang diperankan oleh semua lapisan manusia, bahkan di era komunikasi bermedia sekalipun, bahasa lisan masih merajai dalam kegiatan komunikasi, khususnya di tengah masyarakat teradisional dan bahkan masyarakat modern yang hidup di negara maju maupuan negara yang belum maju, atau masyarakat di negara berkembang.
Bahasa dapat menjembatani dua atau elbih pikiran dan persaaan terutama untuk membangun kesamaan-kesamaan yang diperlukan dalam peroses komunikasi. Jembatan penghubung inilah yang kemudian diekspresikan secara verbal melalui bahasa. Dalam banyak hal, bahasa dapat mempermudah menemukan kesamaan rujukan sejauh simbol-simbol yang digunakannya dapat dimaknai secara sama pula, dengan meminimalkan kemungkianan terjadinya perbedaan persepsi atas simbol bahasa yang digunakannya.
Jika bahasa dalam fungsinya disaluyrkan melalui simbol-simbol verbal dengan memanfaatkan kosakata yang tersedia dalam memory manusia, simbol-simbol verbal itu akan menjadikan perekat rasa di antara pelaku komunikasi. Nilai-nilai universal yang melekat pada simbol-simbol bahasa inilah yang dalam proses interaksi sosial di antara pemeluk agama dapat digunakan dalam kegiatan komunikasi sehari-hari.
3.3. Komunikasi Para Dai
Dalam berdakwah, para da’i atau mubalig umumnya memanfaatkan kemampuan komunikasi yang dimilikinya. Dakwagh bil-lisan seoalah menjadi satu-satunya saluran yang mereka pergunakan dalam menyampaikan pesan-pesan tuhan untuk dijadikan pegangan dalam hidup. Para dai ataupun mubalig sesungguhnya tahu kalau ada pendekatan lain dalam mengajak orang berbuat baik seperti bil-hal atau pendekatan uswah.
Sejak awal, al-quran telah memperkenalkan sejumlah pendekatan komunikatif dalam dakwah agar mampu menyapa umat melalui kearifan rasa bahasa yang menjadi pakaiannya sehari-sehari. Al-quran juga senentiasa mengingatkan para pengikutnya untuk melakukan dakwah sesuai dengan problrma serta  kapasitas kebudayaan masyarakat yang dihadapinya. Jika Rasulullah pernah mengisyaratkan bahwa dakwah itu harus dilakukan dengan mempertimbangkan ukuran akal masyarakatnya, dakwah juga harus melihat secara cerdas watak kebudayaan setempat di mana dakwah itu dilaksankan.
Mungkin, inilah yang biasa dilakukan para juru dakwah dalam mengemban misi mengajak umat menegakkan kebajikan. Di antara para juru dakwah yang dikenal terampil menggunakan bahasa umatnya, dapat disebutmisalnya E.Z. Muttaqien, Totoh Ghzali dan lainnya. Dalam berdakwah biasanya mereka larut berkomuikasi dengan para jamaah, dan lewat komunikasilah biasanya mereka menyapa dan menyentuh kebuthan umat.

BAB III
KOMUNIKASI:
SENI MEMBANGUN INSANI
Pada dasarnya, komuikasi merupakan proses penciptaan makna antara dua orang atau lebih aktor komunikasi lewat penggunaan tanda-tanda. Dalam komuikasi, tanda-tanda tersenut bisa berbentuk verbal atau nonverbal. Bahkan, kedua jenis tanda itu pada praktiknya dapat saja, atau hampir selalu hadir secara bersamaan untuk saling memperkuat atau memperjelas makna.
Seorang mubalig yang mengenakan baju taqwa dan kain sorban dilehernya, tampil penuh percaya diri seolah memperoleh kekuatan psikologis dari pakaian yang dikenakannya sekaligus memberikan daya tarik tersendiri bagi para jamaah.
Jadi, sebetulnya komuikasi melibatkan banyak pertimbangan psikologis, yang dalam banyak hal, aspek psikologis ini menjadi kekuatan penghubung antar pelaku komunikasi.
4.1. Memelihara Ruang Komunikasi
Komunikasi dapat dilihat dalam bingkai proses yang fleksibe, dan mudah berubah-ubah. Ketika dihadapkan pada kenyataan individu yang satu sam lain selalu menujukkan perbedaan-perbedaan, ia tidak pernah kaku memperlakukan setiap individu.
Komunikasi penuh nuansa. Dilihat dari sisi fungsi yang biasa diperankannya, komunikasi merupakan alat yang dimainkan oleh banyak aktor. Sedangkan bila dilihat dari sis ruang manusia, komunikasi ada di mana-mana. Komunikasi dapat dioptimalkan dengan memperhatikan sekurang-kurangnya ada tiga hal yaitu;
Pertama, isi komunikasi, atau biasa juga disebut konten, yakni pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikator. Pesan adalah substansi komunikasi yang dapat mengubah seseorang atau sekelompok orang menjadi sosok seperti apa yang dikehendaki komunikator.
Kedua, konteks komunikasi, yakni lingkungan, tempat, dan waktu di mana komunikasi itu dilakukan. Lingkungan fisik, seperti bentuk dan gaya arsitektur ruangan, waran dominan yang digunkan, serta tata letak ruang dapat berpengaruh terhadap aktiviatas komunikasi. Konteks suasana juga memberikan kontribusi penting dalam menciptakan eektivitas komuikasi.
Ketiga, kontak antar pelaku komunikasi, yakni terbentuknya hubungan individual antara aktor komunikasi sehingga pesan-pesan akan mudah disalurkan. Konteks antar pelaku ini terjadi pada aspek fisik dan psikis.
4.2. Negosiasi: Memepertemukan Kepentingan
Negosiasi adalah bentuk lain dari komunikasi. Negosiasi juga sering disebut seni membina hubungan insani. Negosiasi salah satunya, dapat digunakan untuk mempertemukan kepentingan-kepentingan, atau mencairkan lalu-lintas pertukaran gagasan dan keinginan. Negosiasi sering digunakan dalam berbagai kepentingan formal, seperti dalam ruang poltik yang memeperoleh keuntungan lebih besar.
Secara teknis, proses negosiasai berkaitan erat dengan proses probelm solving. Negosiasi pada dasarnya merupakan proses kompromi untuk menemukan solusi dari perbedaan. Secara teknis, negosiasi ditempuh melalui komunikasi. Karena itu, proses negosiasi seperti halnya proses probelm solving.
Sebagai proses negosiasi, dakwah dilakukan untuk mewujudkan ajakan dalam beragama di antara tarikan-tarikan kehendak manusia. Seorang da’i juga seorag negosiator di antara tarikan-tarikan itu. Islam adalah pesan yang dapat dinegosiasikan untuk menembus nilai-nilai, tradisi, budaya, ataupun yang telah dianut oleh masyarakat yang dihadapinya.

BAB IV
FLESIBILITAS
PROSES DAKWAH
Secara teknis, dengan menimbang karakteristik masyarakat, dakwah sejatinya tetap menjadi wujud aktivitas sosial yang fleksibel, tidak bisa dipaksakan, baik pada aspek substansi amupaun pendekatan. Dakwah idealnya selalu berpihak pada kebutuhan dasar manusia, sebagai individu dan komunitas yang sarat ruang psikologi. Dai sendiri adalah sosok bijak yang memahami arti penting perbedaan sebagai ciri dasar individu. Mereka tidak sama dan tidak bisa di samaratakan. Mereka adalah sosok yang selalu bergerak dalam rentangan fleksibilitas yang dinamis dan humanis.
Dari sisi zamannya, dakwah telah berlansung melalui masanya yang amat panjang dan beragam, sejak masa Rasulullah samapai pada masa di mana peradaban manusia telah sampai pada tingkatnya yang tinggi. Karena pertimbangan itulah, sejumlah ahli berijtihad tentang pendekatan dakwah pada masyarakat industri dan era informasi; sebagaimana islam bisa ditransformasikan kepada masyarakat dengan segala corak kebudayaan yang selalu berubah sekaligus melahirkan problematikanya yang semakin kompleks.
Namun demikian, ada hal yang harus dicatat dalam melakukan adptasi ajaran. Proses adaptasi dilakukan dengantetap memelihara semangat keislaman yang ditransformasikan melalui kegiatan dakwah. Universalisme ajaran diperlukan sebagai tali pengikat yang dapat memperkokoh bangunan ajaran sehingga tidak bergeser menjadi keputusan lokal. Pada lain sisi, pesan-pesan dakwah juga terikat pada sunnah-sunnah alam sehingga tetap bersahabat dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Dengan kata lain, proses adaptasi disini lebih dimaksudkan sebagai upaya pribumisasi islam dalam lingkuangan sosial dan lain-lainnya. Sesuai dengan prinsip islam sebagai agama kemanusiaan, di manapun dan kapanpun.

BAB V
DAKWAH DAN TANTANGAN
MASA DEPAN
Dulu, pada dekade 60-an atau 70-an, tidak banyak ditemukan kegiatan dakwah seperti yang terjadi saat ini. Dalam pengertian tablig, kegiatan dakwah hanya ditemukan dalam kesempatan terbatas pada hari-hari besar islam.
Sekarang, sekitar tiga dasawarsa kemudian,frekuensi kegiatan tablig meningkat luar biasa.secara kuantitatif, tablig dilaksanakan di mana-manadan hampir pada semua kesempatan. Ia hadir bukan saja pada momentum hari-hari islam, bahkan pada hari-hari besar nasional pun, tablig seolah telah menjadi agenda yang tidak bisa ditinggalkan. Pada agenda peringatan hari kemerdekaan dan lainnyaselalu disisipkan acara keagamaan tablig.
Selain itu, media massa pun, baik cetak maupun elektronik, semakin gempita menyajikan beragam progam keagamaan. Lebih-lebih pada momentum keagamaan sepertti bulan ramadhan. Seluruh stasiun televisi, radio, dan media cetak menyediakan space khusus keagamaan islam. Media bukan saja menyajikan program keagamaan dalam sajian tablig secara eksklusif, melainkan juga dalam beragam acara keagamaan dengan kemasan yang bervariasi. Sebuah pemandang yang tidak ditemukan pada era 60-an atau 70-an.
Namun jika dilihat dari situasi sosial yang menjadi sasaran utama tablig, kondisi masyarakat justru memperlihatkan gambaran sebaliknya. Secara sederhana, dengan menggunakan asumsi bahwa pesan-pesan tablig itu sampai kepada masyarakat, dapat diduga bahwa gempita tablig ini tidak memberikan pengaruh positif secara signifikan.
Sebagai kekuatan yang seharusnya menjadi penggerak perubahan sosial secara positif, dakwah seoalah tidak sanggup menghidupkan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat secara lebih produktoif. Padahal secara sosiologis, dakwah pada dasarnya dimaksudkan untuk menhidupkan fungsi-fungsi sosial yang tumbuh berkembang di masyarakat.
Dalam keadaan seperti itu, dakwah diharapkan dapat menawarkan soslusi sebagai ikhtiar produktif dalam melakukan rekayasa individu dan masyarakat melalui proses tranformasi nilai-nilai sesuai dengan pesan-pesan ajaran islam. Dakwah menjadi kekuatan yang menghidupkan semua susistem yang terlibat dalam pembentukan pranata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk itu, secara teknis paling tidak terdapatb dua variabel yang dapat dipertimbangkan berkaitan dengan pelaksanaan dakwah.
Pertama, berkaitan dengan variabel identitas diri masyarakat dakwah. Dalam konteks ini, ada beberapa problema yang cukup dominan yang dapat mengganggu efektivitas dakwah, seperti krisis identitas sebagai akibat masuknya beragam budaya asing.
Kedua, berkaitan dengan variabel dakwah sendiri yang masin memperlihatkan rendahnya mutu dan relevansi. Secara internal, proses dakwah belum cukup cerdas memahami kecendrungan masyarakat yang menjadi sasarannya. Dakwah baru berlansung sesuai dengan kehendak para pelakunya sendiri. Padahal, dakwah merupakan konsumsi masyarakat yang perlu diolah dalam satu ramuan yang tepat.
BAB VI
DAKWAH DI TENGAH DERAS
 ARUS INFORMASI
Pada tahun  1432 h,perbedaan pendapat penetepan tanggal 1 syawal muncul agak nenegangkan.namun melalui media masyarakat dapat dengan mudah  menyaksikan suasana  siding yang terjadi di ibu kota.Dengan bantuan media audio-visual,semuanya menjadi terasa lebih  semangkin dekat.mungkin inlah cirri antara era informasi,di mana dunia telah berubah menjadi desa buana( global fillage)
a.      Peran delematis dakwah
Ada 3 agenda permasalahan penting sehubungan dengan ikhtiar mengoptimalkan peran dakwah:
1.      Berkaitan dengan pla-pola pengembangan dakwah yang selama ini di lakukan oleh para juru  dakwah  baik secara individual maupun kelembagaan.
2.      Berkenaan dengan muatan pesan yang di sampaikan pada setiap kesempatan dakwah di lakukan.
3.      Berkenaan dengan pentingnya di rumuskan ulangsuatu pendekatan aternatif dalam memperkenalkan islam secara khonferensif persuasive di tengan perkembangan teknologi infor masi dan komunikasi
b.      Dakwah di dunia maya
Tugas profetika dakwah memiliki jangkauan luas dan memliki cirri
1.      Akwah yang multidialogis
2.      Dakwah yangintegratif dan fungsional
Suatu interaksi yang memeperkenalkan nilai-nilai  islam dan konsep-konsep islami  secara lebih operasional sekaligus  mengupayakan realisasinya dalam kehidupan umat manusia  dalam segala aspeknya,baik dalam tingkat individu maupun komunitas.

BAB VII
RAGAM BENTUK MEDIA MASSA
            Jika tidak memanfaatkan  perkembangan media,dakwah akan terlempar menjadi korban media,jika para dak’I tidak akrab memanfaatkan media,mustahil suatu saat akan teralienasi dari kehidupan masyarakat maka dari itu harus banyak memahami ragam bentuk media seperti:
a.        Media ( komunikasi ) massa
Media massa merupakan alat bantu utama dalam proses kominikasi,bearti suatu kegiayan yang menggunakan media.seperti Koran,majala,film,radio dan lain sebagainya
1.        Jurnalistik media cetak
a.         Surat kabar
b.        Majala
c.         Buku
2.        Jurnalisik media elektronik
a.         Radio
3.        Juralistik foto

DAKWAH LEWAT MEDIA TULIS
Penulis,stradara, perancang busana dan actor juga sebetulnya terlibat dalam kegiatan dakwah.ahkan dengan sikapnya yang terkomendasi usia dakwah tulisan akan jauh lebih panjang di banding dkwah lisan.akan di lakukan seperti:
a.         Merakit tradisi menulis
Inilah dakwah berkesinambungan.melalui karya tulis,dakwah tidak pernah terhalang oleh usia sekalipu.dakwah akan tetap berjalan tanpa bats pisik yang serin menjadi factor batalnya rencananya dakwah
b.        Budaya tutur vs budaya tulis
Bahasa lisan di atas mimbar memang berbeda dengan bahasa biasa yang kit abaca berbagai media cetak.sekurang-kurangnya karya tulis yang tidak  kaidah-kaidah bahasa tilis tidak akan enak di baca mmeskipun isisnya di anggap perlu.
MERAKIT KARYA TULIS
Meliputi sebagai berikut:
1.        Menulis naskah kasar
a.       Anda bisa membaca bahan bacaan secara bebas
b.      Anda dapat melakukan kontrak dengan sejumlah penulis lainnya
2.        Revisi dan menulis ulang
a. menelaah terhadap organisasi tulisan
b. penyusunan ulang paragrafatau alenia
     FILM MEMPERMUDAH JALAN DAKWAH
Babyak film yang di kategorikan sebagai film dakwah salah satu di antranya seperti kisah para walisongo, kisah-kisah ayat-ayat alquan banyak lagi yang lainnya yang bernilakan akwah di dalamnya.
untuk menyiasati kecendrungan masyarakat lewatkekuatan persuasi yang di milikinya,film dapat melakukan usaha-usaha yang sulit di lakukan oleh media yang lain,mempermudah jalan yang semestinya di lalui oleh dakwah.oleh karenanitu yang patut di pikirkan sekarang,bagai mana insane-insan film,berbuat untuk menyebarkan  pesan-pesan moral  yang lebih konstruktif,ketimbang  isu-isu social yang cendrung destruktif.
SINETRON MODERNISME DONGENG
Kini setelah media komunikasi dan informasi semangkin berkembang,dongeng mlai di rancang dalam kemaan teknologi dengan kekuatan tarik yang lebih besar.dalam konteks seperti itu senetron dasarnya merupakan bentuk modrenisme dongen yang di sajikan secara khas untuk untuk mennkatkan daya tarik sesuai dengan tuntunan zaman pada saat ini.
Kebudayan Islam-Sunda  Dalam Media
Hubungan antara komukasi dan kebudayaan menjadi penting di pahami terutama untuk menggambarkan prilaku komunkasi masyarakat sunda dalam mengartikulasikan kepentingan aatu mendeskripsikan kehendak insane yang di perankanya.aktifitas komunikasi suatu masyarakat berlangsun dengan melibatkan budaya.sebaliknya dengan melibatkan budaya.melalui pengaruh budaya,orang-orang dapat saling mengomunikasikan setiap pesan dengan sesame.
Kohkol-Beduk Media Komunikasi Tradisional Masyarakat Muslim Pedesaan
KOHKOL atu kentongan dan bedug merupakan dua media tradisional.
Kentongan itu berbunyi tiga kali.seseorang sengaja mendatangi masjid untuk manabuh kentong.ia memukulnya berulang-ulang sebanyak tga kali.lalu di ikuti oleh masjid lain untuk meneruskan suara agar dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.dengan bunyi seperti itu ,mayarakat sekitar pun segerah mengetahui kalau seorang dari warganya  meninggal dunia.tanpa ada brokrasi atau perintah,mereka langsung saling bahu membahu menyiapkan segala keperluan untuk mengurus jenazah.
Semua ini terjadi karena:
1.      Terpeliharanya tradisi
2.      Ekpresi bahasa,rasa, dan budaya 
JURNALISTIK DAKWAH
1. CNN haji jurnalis
Posisi jurnalis dalam usaha dakwah islam
Dengan demikian,di sinilah telah di perkirakan arti strategi perlu di kembangkannya study-study kejernalistikan pada lembaga –lembag pendidikan tingi agama islam,khususnya untuk memberikan kontribusi akademis tentang pentingnya memperhatikan model dakwah di era media massa.pada program-program setudy di maksud dapat di kembangkan beberapa kajian yang mungkin masih lebih bersipat komplementer sehingga kemudian dapat di temukan rumus-rimus baru cara dakwah islam pada masyarakat abad ke 21 ansya Allah.
PERS DAN PENYEBARAN PESAN-PESAN AGAMA
Pres, baik medi cetak maupun elektronik,meruakan saluran penyebaran informasi yang cukup efektif dan efesien.inilah barangkali cara lain dalam menerjemahkan perinsip islam seperti di syaratkan oleh Nabi Muhammad SAWyang di rumuskan dalam sepeninggal kalimat ‘ala qodri uqulihim.
Karena itu sampaikanlah pesan –pesan agama secara arif dan bijaksana dengan menggunakan bahasa kaum dimana komunikasi itu berlangsung pres,
KOMUNIKASI PEMBELAJARA
Komunikasi pembelajaran dapt di lakukan seperti, kominikasi dan kepribadian
1.      Komunikasi blajar mengajar,sepertti halnya akan terjadi sebuah
a.       Kontak
b.      Konteks
c.       Konten
2.      Aktif kreaktif,efektif,dan menyenangkan
3.      Pembelajaran kontekstual

MENDIDIK ANAK TAFSIR KOMUNIKASI  QS.ASH SHAFFAAT:102
Proses pendidikan bagi anak usia dini dalam prespektif islam salah satunya di gambarkan al quran  dalam surat ash shaffaat  ayat 102
1.      Anak,di antara sekolah dan rumah
2.      Membangun citra komunikasi dalam keluarga
Jadi,sederhanaya komunikasi pembelajaran sejatinya dapat berlangsung atas dasar tuntunan hati nurani melalui bahasa,rasa sehinggaterbentuk keterkaitan pisikologis secara utuh dalam nuansa kebersamaan dan penuh pengertian.
MEMBANGUN KOMUNIKASI UMAT
Menmbangun komunikasi umat melalui sebagai berikut:
1.      Komunikasi social tradisional
2.      Di balik tradisi IED
Di sisni titik penting komunikasi yang secara cultural berlangsung secara alamiah tradisional membangun tatanan umat yang lebih kuat.lebih-lebih jika proes komunikasi itu berlangsung dalam akar tradisi ke agamaan.jadi lewat komunikasilah suatu interaksi dapat saling memberikan fungsi.
KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA PADA MASYARAKAT MULTI AGAMA
1.      Interaksi dan komunikasi
2.      Komunikasi lintas budaya dan agama
3.      Aktivitas social masyarakat permukiman

Usaha pemerintahan lokat berkaitan dengan membina kehidupan beragam di lingkungan permukiman madani masih di lakukan dalam batsan-batasan wilayah formal.sedangkan usaha pembinaan dan kerjasama antar organissi ke agamaan dengan pemerintah setempat lebih banyak di lakukan oleh RW dan DKM di daerahnya maing-masing.

REFERENSI
Prof. DR. Asep Saeful Muhtadi (Komunikasi Dakwah) Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

   sekian yang dapat saya jabarkan semoga bermanfaat dan terima kasih sahabat telah mampir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar